Skip to main content
Pengendalian Infeksi Nosokomial

Pengendalian Infeksi Nosokomial

di RS Persahabatan, Jakarta

H. Thamrin Hasbullah

UPF Ilmu Bedah, Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta

 

PENDAHULUAN
Masalah Infeksi Nosokomial pada tahun terakhir ini telah menjadi topik pembicaraan di banyak negara.
Telah diketahui bahwa pengelolaan infeksi nosokomial menimbulkan biaya tinggi, baik yang ditanggung pihak penderita maupun pihak Rumah Sakit; bahkan di Amerika, infeksi nosokomial termasuk dalam 10 besar penyebab kematian. Di negara maju, angka kejadian infeksi nosokomial telah dijadikan salah satu tolok ukur mutu pelayanan rumah sakit. Izin operasi suatu rumah sakit bisa dicabut karena tingginya angka kejadian infeksi nosokomial; pihak asuransipun tidak mau membayar biaya lebih yang ditimbulkan akibat infeksi nosokomial sehingga pihak penderita sangat dirugikan. Dari literatur dapat dilihat betapa seriusnya masalah ini di Amerika : Angka kejadian infeksi nosokomial rata-rata 6%; rata-rata tambahan hari rawat adalah 4 hari, dengan tambahan biaya $ 1.800 per kejadian infeksi. Angka kematian infeksi nosokomial mencapai 60.000 pertahun dengan pengeluaran biaya pelayanan tambahan $ 4 Miliard pertahun (Medical Care Journal, Juli 1988; 26: 7).

Di Indonesia, pengalaman di RSUD Dr. Soetomo Surabaya menunjukkan bahwa dengan mengendalikan infeksi nosokomial pada Infeksi Luka Operasi (ILO) dapat dihemat biaya :
1986 : Hari Rawat = 552 hari, biaya Rp. 136.000.000,–
1987 : Han Rawat = 416 hari, biaya Rp. 2.000.000,–

saya tidak tahu untuk waktu sekarang mungkin sudah di turun lagi.

PERMASALAHAN
– Rumah sakit merupakan tempat mondok segala macam jenis penyakit.
– Rumah sakit merupakan gudang kuman-kuman patogen.
– Kuman yang biasa mondok di rumah sakit umumnya kebal terhadap antibiotika, bahkan terhadap banyak antibiotika.

Di rumah sakit banyak dilakukan tindakan yang mengandung risiko terjadinya infeksi nosokomial, seperti : operasi, tindakan invasif, berupa kateterisasi IV, kateterisasi saluran kemih, atau endoskopi; dan pemeriksaan bahan-bahan infeksius. Justru dalam situasi lingkungan seperti inilah orang sakit yang rata-rata daya tahan tubuhnya menurun harus dirawat agar ia sembuh dari penyakitnya.

INFEKSI NOSOKOMIAL
Infeksi Nosokomial adalah infeksi yang didapat penderita selama/oleh karena dia dirawat di rumah sakit. Suatu infeksi pada penderita barn bisa dinyatakan sebagai infeksi nosokomial bila memenuhi beberapa kriteria/batasan tertentu :
1. Pada waktu penderita mulai dirawat di rumah sakit tidak didapatkan tanda-tanda klinik dari infeksi tersebut.
2. Pada waktu penderita mulai dirawat di rumah sakit tidak sedang dalam masa inkubasi dari infeksi tersebut.
3. Tanda-tanda klinik infeksi tersebut baru timbul sekurangkurangnya setelah 3 x 24 jam sejak mulai perawatan.
4. Infeksi tersebut bukan merupakan sisa dari infeksi sebelumnya.
5. Bila saat mulai dirawat di rumah sakit sudah ada tanda-tanda infeksi, dan terbukti infeksi tersebut didapat penderita ketika dirawat di rumah sakit yang sama pada waktu lalu, serta belum pernah dilaporkan sebagai infeksi nosokomial.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
Ada dua faktor yang memegang peranan penting :
* Faktor Endogen :
Faktor yang ada di dalam penderita sendiri seperti umur, sex, dan penyakit penyerta.
* Faktor Eksogen :
Faktor di luar penderita, seperti lama penderita dirawat di rumah sakit, kelompok yang merawat penderita, lingkungan, peralatan, dan teknik medis yang dilakukan.

Penderita
Penting diketahui antara lain : keadaan umum, penyakit penyerta seperti DM, obesitas atau penyakit khronis lainnya, dan keadaan kulit penderita, apakah normal atau ada luka. Kulit normal sudah mengandung banyak kuman yang bisa menjadi penyebab infeksi; ada kuman komensal, yakni kuman yang "normal" berada dalam pori kulit. Jumlahnya dapat dikurangi dengan cara perawatan kulit pra bedah dan pemakaian desinfektan.
Sedangkan kuman pendatang yang berasal dari lingkungan terletak di permukaan kulit; ini dapat dihilangkan dengan cara perawatan kulit pra bedah dan pemakaian desinfektan.

Staf rumah sakit
Dokter dan personil paramedis merupakan sumber infeksi yang penting dalam terjadinya infeksi nosokomial; perlu diperhatikan kesehatan dan kebersihannya, pengetahuan tentang septik septik dan aseptik, dan ketrampilan dalam menerapkan teknik perawatan.

Peralatan
Sangat perlu diketahui mengenai cara penggunaan, cara membersihkan dan mensterilkan, dan cara menyimpan dan mempertahankan kesterilannya.

Lingkungan
Perlu diperhatikan: Kebersihan lingkungan, air yang dipakai, dan udara supaya tetap bersih, mengalir dan dengan kelembaban tertentu. Dalam hal tertentu udara perlu disaring (filtrasi). Bahan yang harus dibuang (disposal) diusahakan tidak menjadi sumber infeksi, misalnya dengan memakai kantong plastik yang dapat segera ditutup, tempat-tempat sampah yang tertutup, dan kadang-kadang perlu fumigasi atau pemusnahan
bahan.

Dalam pengendaliannya perlu diingat bahwa pencegahan lebih baik daripada pengobatan, lebih mudah, lebih murah dan tidak berbahaya baik bagi penderita maupun lingkungannya.
Caranya adalah dengan memutus mata rantai terjadinya infeksi nosokomial :
– Meningkatkan pengetahuan personil rumah sakit tentang infeksi nosokomial.
– Meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang risiko infeksi nosokomial bagi pasien yang dirawatnya.
– Melakukan semua standar prosedur kerja dengan benar dan sempurna (SOP : perawatan, tindakan dan penggunaan/pemilihan alat-alat dan lain-lain).
– Identifikasi penyebab infeksi nosokomial.
– Pemberian pengobatan yang tepat dan rasional.
– Mengikutsertakan penderita dan keluarga dengan memberikan pengetahuan praktis tentang infeksi nosokomial serta penyakit yang sedang diderita penderita, melalui PKMRS.
– Memberi petunjuk praktis pada pengunjung tentang hal-hal yang perlu dijaga/dilakukan/dihindarkan pada waktu berkunjung melalui papan pengumuman, kertas petunjuk di pintu, dan petugas informasi di ruangan.

Langkah-langkah pokok yang perlu dilaksanakan oleh rumah sakit :
1) Menetapkan kebijaksanaan.
Kebijaksanaan bahwa pengendalian infeksi nosokomial masuk dalam program prioritas di rumah sakit, dengan demikian dapat dipastikan adanya dukungan sumber daya.

2) Menetapkan struktur organisasi
Panitia Medik Pengendalian Infeksi (Dalin) mempunyai
tugas pokok menyusun kebijaksanaan dasar, tim Dalin mempunyai
tugas pokok menyusun prosedur, pendidikan, pemantauan,
sedang UPF bertugas melaksanakan prosedur.

3) Penyusunan rencana kerja, prosedur kerja.
Perlu ditetapkan prioritas masalah infeksi nosokomial yang akan ditanggulangi dari masalah yang ada, misalnya :
– Infeksi Luka Operasi,
– Sepsis,
– Infeksi Saluran Kemih,
– Pneumonia,
– dan lain-lain.
Prosedur kerja yang perlu ditetapkan adalah :
– Cara pencegahan infeksi nosokomial.
– Cara pemantauan infeksi nosokomial (surveilans).

4) Pencatatan, pelaporan dan tindakan koreksi.
– Pengumpulan data.
– Penyusunan data.
– Analisis data.
– Penyimpulan data.
– Pelaporan/umpan balik.
Dilaksanakan dengan terarah, tepat, tertib dan berkesinambungan.

Pada kejadian Luar Biasa perlu ditetapkan :
− Tata cara untuk melakukan identifikasi masalah.
− Penetapan penyebab.
− Cara pemecahan masalah.

5) Pendidikan personil.
Peranan pendidikan personil sangat penting, karena pencegahan infeksi nosokomial hanya dapat berhasil bila ada perubahan perilaku personil; hal ini memerlukan motivasi dan pengetahuan yang bisa diperbailci melalui pendidikan.

Contoh : pada KLB :
− Digunakan analisis sebab akibat.
− Ditambah analisis penderita.
− Baru ditetapkan hipotesis penyebab.
− Baru dilakukan intervensi.
− Dipantau hasilnya.

KESIMPULAN
– Infeksi nosokomial dapat dikendalikan dan angka kejadiannya dapat diturunkan dengan sepertiganya.
– Dengan biaya pengendalian yang murah dapat dihemat hari rawat dan biaya pelayanannya.
– Dengan pengendalian infeksi nosokomial dapat dijaga dan ditingkatkan mutu pelayanan rumah sakit.
– Pengendalian infeksi nosokomial tidak terlalu sukar, asal setiap petugas rumah sakit dapat memahami dan menyadari peranannya masing-masing dan pengendaliannya dilakukan dengan terencana, terkoordinir serta terkendali.